Kelurahan .

Bago

Profil Kelurahan

Bago adalah kelurahan di kecamatan Tulungagung, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, yang memiliki luas wilayah 1,54 km2, dengan jarak 1,0 km ke ibukota kecamatan Tulungagung. Kelurahan Bago memiliki luas lahan 153,74 Ha, dimana 53,34 Ha digunakan sebagai sawah, 89,90 Ha digunakan sebagai pekarangan dan bangunan, dan 10,50 Ha adalah tanah kering lainnya.

Pola pemanfaatan lahan di Kelurahan Bago lebih didominasi oleh produksi tanaman hortikultura (mangga, pisang, pepaya), diikuti dengan produksi padi dan jagung, serta produksi ternak sapi, kambing/domba, kelinci, ayam, itik/mentok.

Berdasarkan kelompok jenis kelamin, Kelurahan Bago memiliki jumlah penduduk sebanyak 9.376 jiwa dengan rincian laki-laki (L) 4.554 jiwa, perempuan (P) 4.822 jiwa. Dari tingkat pendidikannya, sebanyak 2.027 orang lulusan SD, 3.262 orang tamatan SLTP, 175 orang tamatan SLTA, 505 orang lulusan D-1, 70 orang lulusan D-3, 90 orang lulusan S-1, dan 85 orang lulusan S-2.   

Mata pencaharian masyarakatnya didominasi oleh wiraswasta (1.098 orang), diikuti dengan industry pengolahan (528 orang), jasa-jasa (283 orang), konstruksi dan bangunan (243 orang), angkatan dan komunikasi (133 orang), pertanian (122 orang), keuangan, persewaan dan jasa perusahaan (37 orang). 

Berbagai fasilitas di Kelurahan Bago meliputi fasilitas Pendidikan seperti 2 TK Swasta, 4 SD Negeri, 1 SD Swasta, 1 SMP Swasta; fasilitas Kesehatan yang terdiri dari 11 Posyandu, 1 Polindes; fasilitas olahraga seperti 1 fasilitas bulutangkis, 2 fasilitas volley ball, 5 fasilitas tenis meja, 1 fasilitas silat/karate; fasilitas organisasi kesenian seperti 1 fasilitas wayang kulit, 2 fasilitas jaranan, 2 fasilitas samroh, dan 1 fasilitas orkes. Selain itu, terdapat fasilitas tempat ibadah, yaitu 8 masjid, 10 mushola, dan 1 gereja. Di kelurahan Bago juga terdapat 1 pasar, 98 kios/toko, 74 pracangan, 33 warung, 18 badan sensus, 5 KSP, dan 2 Kelompok UED, 6 rumah makan/restoran.

Sejarah Kelurahan

Ini merupakan kesejarahan menjadi Desa Bago, sebelum dipecah keberadaan wilayah Bago menjadi satu dengan Desa Kepatihan, dan Desa Kampungdalem. Penguasa Desa Kepatihan pada saat itu bernama Djembul Marpadi, yang mempunyai piandel atau pusaka yang namanya keris Bago Pati. Setelah wilayah terbagi terjadilah perebutan pusaka keris tersebut, yang hingga akhirnya keberadaan keris tersebut jatuh pada pihak Desa Kepatihan. Sedangkan warongkonya jatuh pada pihak Desa Bago, hingga akhirnya sampai saat ini desa tersebut menjadi Desa Bago.

Sekitar tahun 1928-1929, seorang penguasa di Desa Bago yang bernama Tjokro Yudho. Konon pada saat itu Tjokro Yudho adalah sosok orang yang memiliki kesaktian atau kesekten yang tiada tandingnya. Sehingga apa yang menjadi hasrat dan kehendaknya tidak ada yang berani melawan atau menentangnya. Penduduk seakan-akan tertekan dengan kekuasaannya, dikarenakan pada saat itu belum ada penegak hokum yang ada hanyalah Surodadu.

Tjokro Yudho memiliki dua orang anak, yang pertama bernama Gontor dan kedua bernama Tolang. Kedua putra itu juga memiliki tabiat jahat dan selalu berbuat maksiat seperti ayahandanya, sampai-sampai Desa Bago dijuluki Mbahe Jago yang intinya tempat kalangan orang-orang yang suka adu jago dengan taruhan uang. Selain itu, disebut juga sebagai tempat judi dan pencuri bahkan tempatnya orang-orang pemabuk minuman keras dengan diiringi oleh gemelan tradisional yang namanya tayuban.

Keadaan dari hari berganti bulan, bulan berganti tahun, anak Tjokro Yudho yang bernama Gontor memiliki keturunan seorang putra bernama Nambur. Dia memiliki kelebihan, namun justru berbalik dari tabiat ayahandanya, karena bias mengobati dari berbagai penyakit, khususnya penyakit yang berhubungan dengan ilmu ghoib alias tenung atau santet. Seiring perputaran jaman dari segala kebutuhan insan, dan tuntutan kehidupan terukirlah asa atau harapan untuk meraih perubahan kekuasaan yang bias dirasakan oleh semua warga yang ditinggalkan oleh pengusasa dan keturunannya terdahulu, untuk menatap kedepan meraih kebahagiaan.

Penguasa terdahulu telah sirna, kebiasaan dimasa yang lampau telah tiada, ditelan masa, di saat itu pulalah sedikit demi sedikit hilangnya angkara  murka, yang ada hanya peninggalan sejarah yang dibangun oleh Tjokro Yudho berupa Buk (Pembatas kanan-kiri_ sungai yang hingga saat ini masih keberadaannya. Dinamakan Buk Tjokro yang tempatnya di tengah sawah Bago. Seiring sirnanya penguasa terdahulu munculah lurah pertama yang bernama Darmadi, yang selanjutnya perjuangan dan pembangunan Desa Bago secara turun menurun hingga saat ini yang telah berubah statusnya menjadi kelurahan. Demikian sekilah sejarah asal usul adanya Kelurahan Bago untuk bias dijadikan bahan pelengkap dalam penelurusan sejarah desa/kelurahan se-Kabupaten Tulungagung.

Wilayah Kelurahan

1
RW
1
RT
Batas Kelurahan

Maklumat Pelayanan

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Ut elit tellus, luctus nec ullamcorper mattis, pulvinar dapibus leo.

Struktur Pemerintahan

Kelurahan Bago

Ingin tahu statistik kelurahan lainnya?